Kepribadian didefinisikan sebagai ciri-ciri kejiwaan dalam diri yang menentukan dan mencerminkan bagaimana seseorang berespon terhadap lingkungannya. Penekanan dalam definisi ini adalah pada sifat-sifat dalam diri atau sifat-sifat kewajiban yaitu kualitas, sifat,pembawaan, kemampuan mempengaruhi orang dan perangai khusus yang membedakan satu individu dari individu lainnya. Kepribadian cenderung mempengaruhi pilihan seseorang terhadap produk. Sifat-sifat inilah yang mempengaruhi cara konsumen merespon usaha promosi para pemasar, dan kapan, di mana, dan bagaimana mereka mengkonsumsi produk dan jasa tertentu. Karena itu, identifikasi teerhadap karakteristik kepribadian khusus yang berhubungan dengan perilaku konsumen sangat berguna dalam penyusunan strategi segmentasi pasar perusahaan.
1. Well Groomed
Istilah wel – groomed berasal dari istilah bahasa Inggris, yaitu dari kata to groom yang berarti memelihara, sedangkan well berarti baik. Jadi well – groomed berarti terpelihara dengan baik. Seseorang memperoleh julukan well – groom apabila rambutnya tersisir dan berpotongan rapi, berpakaian rapi dan bersih, luwes, sedap dipandang serta menarik.
Seseorang yang mengenakan pakaian yang mahal dengan perlengkapan pakaian (tas, topi, aksesoris dan sebagainya) serba mewah tidak dapat dikatakan well – groomed apabila tidak dapat merawat atau memelihara apa yang dikenakan itu dengan baik.
Ciri-ciri Well – Groomed terdiri dari :
- Rapi
- Cantik dan menaris
- Harmonis dan serasi
- Luwes
Syarat-syarat Pencapaian Well – Groomed
a. Perlu mengetahui tentang tata busana secukupnya yaitu :
- Potongan / guntingannya, warna / corak. Cara memakai, waktu / kesempatan, tempat dimana pakaian itu harus dipakai, dan sebagainya.
b. Perlu menyadari keadaan dirinya
- Besar atau kecil, pendek atau tinggi, berkulit kuning atau hitam, dan sebagainya.
c. Perlu mengetahui tentang tata pergaulan, cara bercakap- cakap di rumah atau dengan orang lain, di tempat resepsi, di pasar, di gedung bioskop dan sebagainya. Juga harus tahu dengan siapa kita bercakap-cakap serta apa yang menjadi topic pembicaraannya.
d. Perlu membaca buku atau majalah yang berisi tentang tata busana, tata boga, (makanan), tata graham (kerumah – tanggaan), tata pergaulan, tentang ajaran agama, kesusilaanm, dan sebagainya.
e. Selalu menghormati dan memahami pendapat orang lain, tidak ragu-ragu mengakui kesalahan dan sebagainya.
f. Perlu membiasakan diri memperhatikan hal-hal yang baik dan berusaha untuk melakukannya.
g. Perlu membiasakan diri melakukan apapun dengan selalu memenuhi rasa keindahan, sesuai dengan adapt istiadat dan rasa kesusilaan yang tinggi.
Setelah diuraikan tentang cirri-ciri dan syarat-syarat untuk mencapai well – groomed, maka dapat disimpulkan bahwa : seseorang yang dikatakan bersikap well – groomed tidaknya hanya dilihat dari penampilan dan pakaian yang dikenakan saja, tetapi tingkah laku dan kata-kata yang bersangkutan selalu menarik orang lain. Meski bebas tingkah lakunya. Banyak kata-katanya, namun kewibawaan tetap dimilikinya.
2. Sikap Dalam Perilaku Konsumen
Sikap menurut Allport adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon terhadap suatu obyek dalam bentuk rasa suka atau tidak suka.
Teori tiga komponen sikap yaitu :
1. Komponen Kognitif
Komponen kognitif berkenaan dengan hal-hal yang diketahui individu atau pengalaman individu baik yang sifatnya langsung atau tidak langsung dengan obyek sikap.
2. Komponen Afektif
Komponen afektif berkenaan dengan perasaan dan emosi konsumen mengenai obyek sikap, bisa beragam ekspresinya mulai sangat tidak suka sampai sangat suka.
3. Komponen Konatif
Komponen konatif berkenaan dengan predisposisi atau kecenderungan individu untuk melakukan suatu tindakan dengan obyek sikap, jadi komponen konatif ini baru sebatas keinginan belum tindakan nyata.
Jika counter yang jadi obyek penelitian dalam analisis prilaku konsumen, maka komponen kognitif yang perlu ditanyakan ialah tentang pengetahuan para konsumen terhadap obyek (counter) yang dituju, entah itu pengetahuan konsumen terhadap obyek dari keluarga, teman, dan pengalamannya konsumen itu sendiri.
Komponen afektif dalam obyek counter yaitu kelanjutan dari komponen kognitif yaitu perasaan yang menyelimuti konsumen terhadap obyek. Untuk mengetahui komponen afektif kita harus menganalisis perasaan konsumen terhadap counter tersebut apakah puas jika membeli sesuatu di counter itu. Bisa juga pada masalah pelayanan di conter tersebut berpengaruh pada kepuasan konsumen.
Pada komponen konatif bisa di lihat dari kebutuhan para konsumen terhadap sesuatu yang dicari atau dibutuhkan pada obyek (counter). Berawal dari keinginan inilah konsumen melakukan tindakan pembelian sesuatu yang dituju oleh konsumen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar