Minggu, 19 Oktober 2014

Corporate Social Responsibility (CSR)

1. Contoh kasus dari kegiatan CSR yang saya ambil disini yaitu PT. DANONE AQUA yang memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar atau daerah-daerah lain. salah satu dari tindakan CSR perusahaan ini adalah melakukan penanaman pohon untuk menambah daerah peresepan air yang berguna saat musim kemarau datang di sejumlah daerah di Indonesia.
Selain itu, tindakan nyata yang dilakukan oleh perusahaan AQUA dalam hal CSR adalah penyaluran air bersih yang dikhususkan bagi daerah-daerah yang memiliki kelangkaan air bersih seperti NTT dan daerah lain. bentuk lain dari tindakan CSR AQUA yakni dengan adanya bantuan pendidikan untuk anak-anak yang membutuhkan serta mereka yang kurang mampu dalam hal ekonomi.

2. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu kegiatan yang dilakukan perusahaan kepada warga sekitar atau lingkungan perusahaan tersebut. Manfaat dari kegiatan ini sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan kepada wilayah sekitar dimana perusahaan tersebut berdiri atau lingkungan yang akan berdampak positif terhadap masyarakat banyak. dengan melakukan kegiatan CSR ini perusahaan bisa menumbuhkan citra baik dimata masyarakat serta memberikan kesan perusahaan tersebut peduli akan apa yang terjadi disekelilingnya. selain itu perusahaan juga mendapat keuntungan dengan mempromosikan produk melalui kegiatan sosial ini, dengan begitu perusahaan akan mendapat keuntungan pembelian yang lebih serta citra perusahaan yang baik.

3. Jadi, kegiatan sosial atau CSR yang dilakukan oleh perusahaan AQUA ini sangat berdampak positif dan memberikan nilai tambah kepada perusahaan dengan bantuan-bantuan sosial yang diberikan kepada lingkungannya. Dengan timbal balik yang didapat perusahaan yaitu citra nama perusahaan yang terjaga dengan baik sekaligus menambah keuntungan dari pembelian produk yang dilakukan oleh konsumen yang tertarik dengan kegiatan yang diselenggarakan perusahaan tersebut.

4. Referensi :
    - Iklan yang dimuat di Televisi

Minggu, 12 Oktober 2014

Etika Utilitarian Dalam Bisnis

1. Teori Utilitarian adalah suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan bahwa suatu tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya didefinisikan sebagai memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan. "Utilitarianisme" berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah atau menguntungkan.

2. Kasus yang bisa diambil sebagai contoh yaitu restoran cepat saji dengan sebutan Mc. Donnald, dimana restoran tersebut selalu melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar tempat bisnis tersebut. kegiatan tersebut biasa disebut dengan CSR (Corporate Social Responsibility) yaitu kegiatan sosial yang dilakukan oleh perusahaan atau pelaku bisnis dengan memberikan manfaat, kegunaan atau sesuatu yang positif dan menguntungkan bagi masyarakat sekitar. kegiatan yang bersifat utilitarian yang dilakukan oleh pihak Mc. Donnald seperti bantuan sosial untuk masyarakat sekitar khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu dan kegiatan lain seperti pelestarian lingkungan dengan menjaga kebersihan dan penghijauan alam lingkungan sekitar tempat usaha. Dengan demikian diharapkan adanya kegiatan sosial seperti ini dapat menciptakan hubungan yang harmonis antara perusahaan dan masyarakat, serta untuk menambah nilai positif bagi perusahaan.

3. Analisis dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan bersosial ini berdampak sangat baik dan positif dengan menjalin hubungan baik antara perusahaan dan masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga tidak merugikan pihak perusahaan maupun warga sekitar. 

4. Referensi yang diambil :
http://en.wikipedia.org/wiki/Corporate_social_responsibility 

Jumat, 03 Oktober 2014

Budaya dan Adat Istiadat

Jogjakarta, kota asal sekaligus kota yang paling saya cintai. Meski saya tidak lahir di kota tersebut, tapi darah Jogja mengalir ditubuh saya dari sang Ibu. Dari banyaknya adat istiadat yang ada di kota Jogja, saya akan membahas beberapa yang saya ketahui. Salah satunya yaitu, sopan santun yang dimiliki orang-orang jogja yang terkenal dengan keramah-tamahannya dan kelembutan dari tutur katanya hingga perilaku mereka yang masih terjaga hingga sekarang.
Belum lama ini saya baru kembali ke kota Jogja untuk menghadiri pemakaman kakak dari ibu saya atau biasa dipanggil “pakde” dalam bahasa jawa. Salah satu yang menarik adalah ketika jasad sudah rapih dan siap untuk dimakamkan, dan para kerabat serta tetangga yang datang satu-persatu. Sebelum acara pemakaman dilaksanakan terdapat acara seperti penyampaian nasihat atau sekedar kata-kata perpisahan yang disampaikan oleh beberapa tokoh desa tersebut, kemudian disambung dengan acara lain yaitu dimana keluarga yang ditinggalkan diharuskan berjalan menunduk melewati keranda dari jasad keluarga yang menurut warga sekitar hal tersebut dilakukan agar keluarga yang ditinggalkan tidak terus-menerus teringat akan beliau yang sudah pergi. Hal unik lainnya adalah keranda tersebut dipayungi oleh payung cantik yang seperti terdapat di keraton jogjakarta. Kemudian acara pemakaman dilaksanakan dengan menyebar beberapa uang logam selama perjalanan menuju tempat jasad dimakamkan.
Lain dari hal diatas, adat istiadat atau norma yang sampai sekarang masih terjaga di daerah jogja yaitu rasa hormat dan saling menghargai antar sesama meskipun mungkin dari mereka ada yang belum saling mengenal. Ini terlihat saat saya ingin pergi berkeliling kota tersebut dengan diantar oleh sepupu terdekat, dan selama perjalanan sepupu saya tidak pernah lupa untuk menundukkan sedikit kepalanya dan mengucapkan “permisi” dalam bahasa jawa tiap kali melewati jalan yang dipinggirnya ada warga lain, tidak peduli orang itu lebih tua atau lebih muda darinya.
Satu lagi adat istiadat yang saya sukai dari Jogjakarta, disaat idul fitri tiba, seluruh kerabat dan tetangga akan mendatangi satu persatu rumah untuk sekedar saling meminta maaf. Namun yang berbeda cara meminta maaf di Jogja dengan Jakarta adalah mereka suku jawa, Jogjakarta khususnya akan menghampiri sesepuh dan berlutut (sungkem) sambil memegang tangan sang sesepuh diiringi dengan kata-kata permintaan maaf dalam bahasa jawa yang saya tidak mengerti arti dari percakapan tersebut, tapi secara garis besar itu adalah cara orang jawa meminta maaf kepada mereka yang lebih tua atau dianggap sesepuh mereka.


Dari beberapa adat mengenai suku jawa diatas, dapat dilihat perbedaan antara budaya jawa dan budaya yang ada di Jakarta. Dimana di Jakarta acara pemakaman dilakukan lebih sederhana, tidak adanya budaya sungkem seperti di jawa, dan perilaku kesopanan orang-orang di Jakarta dinilai kurang dibanding di Jogjakarta. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh faktor budaya asing yang datang di Indonesia, dan karena Jakarta adalah ibu kota negara maka budaya asing seperti itu lebih mudah dan lebih cepat masuk ke tiap pribadi masing-masing.