Jumat, 03 Oktober 2014

Budaya dan Adat Istiadat

Jogjakarta, kota asal sekaligus kota yang paling saya cintai. Meski saya tidak lahir di kota tersebut, tapi darah Jogja mengalir ditubuh saya dari sang Ibu. Dari banyaknya adat istiadat yang ada di kota Jogja, saya akan membahas beberapa yang saya ketahui. Salah satunya yaitu, sopan santun yang dimiliki orang-orang jogja yang terkenal dengan keramah-tamahannya dan kelembutan dari tutur katanya hingga perilaku mereka yang masih terjaga hingga sekarang.
Belum lama ini saya baru kembali ke kota Jogja untuk menghadiri pemakaman kakak dari ibu saya atau biasa dipanggil “pakde” dalam bahasa jawa. Salah satu yang menarik adalah ketika jasad sudah rapih dan siap untuk dimakamkan, dan para kerabat serta tetangga yang datang satu-persatu. Sebelum acara pemakaman dilaksanakan terdapat acara seperti penyampaian nasihat atau sekedar kata-kata perpisahan yang disampaikan oleh beberapa tokoh desa tersebut, kemudian disambung dengan acara lain yaitu dimana keluarga yang ditinggalkan diharuskan berjalan menunduk melewati keranda dari jasad keluarga yang menurut warga sekitar hal tersebut dilakukan agar keluarga yang ditinggalkan tidak terus-menerus teringat akan beliau yang sudah pergi. Hal unik lainnya adalah keranda tersebut dipayungi oleh payung cantik yang seperti terdapat di keraton jogjakarta. Kemudian acara pemakaman dilaksanakan dengan menyebar beberapa uang logam selama perjalanan menuju tempat jasad dimakamkan.
Lain dari hal diatas, adat istiadat atau norma yang sampai sekarang masih terjaga di daerah jogja yaitu rasa hormat dan saling menghargai antar sesama meskipun mungkin dari mereka ada yang belum saling mengenal. Ini terlihat saat saya ingin pergi berkeliling kota tersebut dengan diantar oleh sepupu terdekat, dan selama perjalanan sepupu saya tidak pernah lupa untuk menundukkan sedikit kepalanya dan mengucapkan “permisi” dalam bahasa jawa tiap kali melewati jalan yang dipinggirnya ada warga lain, tidak peduli orang itu lebih tua atau lebih muda darinya.
Satu lagi adat istiadat yang saya sukai dari Jogjakarta, disaat idul fitri tiba, seluruh kerabat dan tetangga akan mendatangi satu persatu rumah untuk sekedar saling meminta maaf. Namun yang berbeda cara meminta maaf di Jogja dengan Jakarta adalah mereka suku jawa, Jogjakarta khususnya akan menghampiri sesepuh dan berlutut (sungkem) sambil memegang tangan sang sesepuh diiringi dengan kata-kata permintaan maaf dalam bahasa jawa yang saya tidak mengerti arti dari percakapan tersebut, tapi secara garis besar itu adalah cara orang jawa meminta maaf kepada mereka yang lebih tua atau dianggap sesepuh mereka.


Dari beberapa adat mengenai suku jawa diatas, dapat dilihat perbedaan antara budaya jawa dan budaya yang ada di Jakarta. Dimana di Jakarta acara pemakaman dilakukan lebih sederhana, tidak adanya budaya sungkem seperti di jawa, dan perilaku kesopanan orang-orang di Jakarta dinilai kurang dibanding di Jogjakarta. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh faktor budaya asing yang datang di Indonesia, dan karena Jakarta adalah ibu kota negara maka budaya asing seperti itu lebih mudah dan lebih cepat masuk ke tiap pribadi masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar