Jogjakarta, kota asal
sekaligus kota yang paling saya cintai. Meski saya tidak lahir di kota
tersebut, tapi darah Jogja mengalir ditubuh saya dari sang Ibu. Dari banyaknya adat istiadat
yang ada di kota Jogja, saya akan membahas beberapa yang saya ketahui. Salah satunya
yaitu, sopan santun yang dimiliki orang-orang jogja yang terkenal dengan
keramah-tamahannya dan kelembutan dari tutur katanya hingga perilaku mereka
yang masih terjaga hingga sekarang.
Belum lama ini saya
baru kembali ke kota Jogja untuk menghadiri pemakaman kakak dari ibu saya atau
biasa dipanggil “pakde” dalam bahasa jawa. Salah satu yang menarik adalah
ketika jasad sudah rapih dan siap untuk dimakamkan, dan para kerabat serta tetangga
yang datang satu-persatu. Sebelum acara pemakaman dilaksanakan terdapat acara
seperti penyampaian nasihat atau sekedar kata-kata perpisahan yang disampaikan
oleh beberapa tokoh desa tersebut, kemudian disambung dengan acara lain yaitu
dimana keluarga yang ditinggalkan diharuskan berjalan menunduk melewati keranda
dari jasad keluarga yang menurut warga sekitar hal tersebut dilakukan agar
keluarga yang ditinggalkan tidak terus-menerus teringat akan beliau yang sudah
pergi. Hal unik lainnya adalah keranda tersebut dipayungi oleh payung cantik yang
seperti terdapat di keraton jogjakarta. Kemudian acara pemakaman dilaksanakan
dengan menyebar beberapa uang logam selama perjalanan menuju tempat jasad
dimakamkan.
Lain dari hal diatas,
adat istiadat atau norma yang sampai sekarang masih terjaga di daerah jogja
yaitu rasa hormat dan saling menghargai antar sesama meskipun mungkin dari
mereka ada yang belum saling mengenal. Ini terlihat saat saya ingin pergi
berkeliling kota tersebut dengan diantar oleh sepupu terdekat, dan selama
perjalanan sepupu saya tidak pernah lupa untuk menundukkan sedikit kepalanya
dan mengucapkan “permisi” dalam bahasa jawa tiap kali melewati jalan yang
dipinggirnya ada warga lain, tidak peduli orang itu lebih tua atau lebih muda
darinya.
Satu lagi adat istiadat
yang saya sukai dari Jogjakarta, disaat idul fitri tiba, seluruh kerabat dan
tetangga akan mendatangi satu persatu rumah untuk sekedar saling meminta maaf. Namun
yang berbeda cara meminta maaf di Jogja dengan Jakarta adalah mereka suku jawa,
Jogjakarta khususnya akan menghampiri sesepuh dan berlutut (sungkem) sambil
memegang tangan sang sesepuh diiringi dengan kata-kata permintaan maaf dalam
bahasa jawa yang saya tidak mengerti arti dari percakapan tersebut, tapi secara
garis besar itu adalah cara orang jawa meminta maaf kepada mereka yang lebih
tua atau dianggap sesepuh mereka.
Dari beberapa adat
mengenai suku jawa diatas, dapat dilihat perbedaan antara budaya jawa dan
budaya yang ada di Jakarta. Dimana di Jakarta acara pemakaman dilakukan lebih
sederhana, tidak adanya budaya sungkem seperti di jawa, dan perilaku kesopanan orang-orang
di Jakarta dinilai kurang dibanding di Jogjakarta. Hal tersebut mungkin
disebabkan oleh faktor budaya asing yang datang di Indonesia, dan karena Jakarta adalah ibu kota negara maka budaya asing seperti itu lebih mudah dan
lebih cepat masuk ke tiap pribadi masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar